Posted on

jual beli dalam islam

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr, Wb puji syukur kami ucapkan kepada  Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini dengan judul “jual – beli dan Riba Menurut Islam dan Perilaku Jahiliah” serta tidak lupa pula kami mengucapkan shalawat serta salam kepada junjungan Nabi kita Muhammad SAW yang telah membawa kita dari zaman jahilia, dari zaman kebodohan menuju zaman yang sekarang ini yakni zaman yang penuh denga ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dalam pembuatan makalah ini saya sangat menyadari bahwa baik dalam penyampaian maupun penulisan masih banyak kekurangannya untuk itu saran dan kritik dari berbagai pihak sangat kami harapkan untuk penunjang dalam pembuatan makalah kami berikutnya.

Wassalamualaikum Wr, Wb

 

Pekanbaru, 2011

 

 

 

Penulis

 

 

 

 

DAFTAR ISI

  1. 1.      Kata Pengantar ………………………………………………………………………………………………………… i
  2. 2.      Daftar Isi         ..………………………………………………………………………………………………………… ii
  3. 3.      BAB I Pendahuluan…………………………………………………………………….……………………………… 1

1.1 Latar Belakang….……………………………………………………………….……………………………………  1

1.2 Permasalahan …..…………………………………………………………….……………………………………… 1

4.  BAB II Pembahasan…….……………………………………………………………………………………………… 2

2.1 Pengertian Jual Beli          ….………………………….……………………………………………………….  2

2.2 Rukun Jual – Beli   ………………………………………………………………………………………………….. 2

2.3 Hukum Jual Beli    ………………………………………………………………………………………………….  2

2.4 Larangan Dalam Jual – Beli …………………………………………………………………………………….. 3

2.5 Macam – macam Jual Beli ………………………………………………………………………………………  3

2.6 Hikmah Yang disyariatkan Jual Beli …………………………………………………………………………. 4

2.7 Pengertian Riba    …………………………………………………………………………………………………… 4

2.8 Dasar Hukum Riba            ………………………………………………………………………………………………….. 4

2.9 Sebab Diharamkan Riba   ………………………………………………………………………………………. 6

2.10 Macam – macam riba    ………………………………………………………………………………………. 7

2.11 Hikmah Pengharaman Ribah ……………………………………………………………………………….. 9

5. BAB III Penutup……….………………………………………………………………………………………………. 10

3.1 Kesimpulan           ……..…………………………………………………………………………………………. 10

3.2 Saran                     ………………………………..………………………………………………………………. 10

Daftar Pustaka           ………….………….………..……………………………………………………………. 11

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

Allah SWT telah menurunkan syariat bagi hambanya  dan membolehkan bagi mereka pekerjaan – pekerjaan yang dapat membawa kemaslatan bagi mereka, membangun hidup kemasyarakatan dan menumbuhkan perekonomian , yakni  pekerjaan yang dapat memberikan kebaikan bagi mereka baik di dunia maupun di akhirat, serta mengharamkan bagi mereka pekerjaan – pekerjaan buruk dan muamalah – muamalah yang haram, yang dapat merusak akhlak mereka, meruntuhkan bagunan kemasyarakatan dan melemahkan perekonomian.

Diantara pekerjaan yang dibolehkan oleh Allah SWT yang di maksud disini adalah jual beli. Sedangkan pekerjaan yang dilarang oleh Allah SWT , bahkan diharamkan adalah riba.

Melihat kurangnya pemahaman orang – orang tentang jual – beli dan riba maka penulis ingin memberikan pengetahuan tentang masalah ini  dengan menuangkannya dalam makalah ini.

 

1.2  Permasalahan

Dalam penulisan makalah ini penulis hanya membahas muamalah yang berkaitan dengan dua hal diatas, yakni jual beli dan riba dengan menfokuskan pembahasan antara lain pada : pengertian jual beli ,rukun jual beli  hukum – hukumnya ,larangan dalam jual beli,  macam – macam jual beli, hikmah yang disyariatkan , pengertian riba,dasar hukum mengharamkan riba, sebab di haramkan riba, hikmah mengharamkan riba.

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1 Pengertian Jual – Beli

jual beli adalah suatu perjanjian yang dilakukan oleh kedua belah pihak dengan cara suka rela sehingga keduanya dapat saling menguntungkan, maka akan terjadilah penukaran hak milik secara tetap dengan jalan yang dibenarkan oleh syara.

Secara syara’ pengertian jual beli adalah tukar menukar harta dengan harta untuk memiliki dan memberikan kepemilikan. Sebagian ulama memberikan pengertian : tukar menukar harta meskipun masih ada tanggungan atau kemanfaatan yang mubah dengan sesuatu yang semisal dengan keduanya, untuk memberikan secara tetap. Kedua pengertian tersebut mempunyai kesamaan dan mengandung hal- hal antara lain :

  • Jual beli dilakukan oleh dua orang (dua sisi) yang salig melakukan tukar menukar.
  • Tukar menukar tersebut atas suatu barang atau sesuatu yang dihukumi seperti barang, yakni kemanfaatan dari kedua belah pihak.
  • Sesuatu yang tidak berupa barang / harta atau yang dihukumi sepertinya tidak sah untuk diperjualbelikan.
  • Tukar – menukar tersebut hukumnya tetap berlaku yakni kedua belah pihak memiliki sesuatu yang diserahkan kepadanya dengan adanya ketetapan jual – beli dengan kepemilikan yang abadi.

 

2.2  Rukun jual – beli

  1. Ada penjual dan pembeli yang keduanya harus berakal sehat, atas kemauan sendiri, dewasa/baligh dan tidak mubadzir alias tidak sedang boros.
  2. Ada barang atau jasa yang diperjualbelikan dan barang penukar seperti uang, dinar emas, dirham perak, barang atau jasa. Untuk barang yang tidak terlihat karena mungkin di tempat lain namanya salam.
  3. Ada ijab qabul yaitu adalah ucapan transaksi antara yang menjual dan yang membeli (penjual dan pembeli).

 

2.3  Hukum Jual – Beli

  1. Haram
    Jual beli haram hukumnya jika tidak memenuhi syarat/rukun jual beli atau melakukan larangan jual beli.
  2. Mubah
    Jual beli secara umum hukumnya adalah mubah.
  3. Wajib
    Jual beli menjadi wajib hukumnya tergantung situasi dan kondisi, yaitu seperti menjual harta anak yatim dalam keadaaan terpaksa.

 

2.4  Larangan dalam Jual – Beli

  1. Membeli barang di atas harga pasaran.
  2. Membeli barang yang sudah dibeli atau dipesan orang lain.
  3. Memjual atau membeli barang dengan cara mengecoh/menipu (bohong).
  4. Menimbun barang yang dijual agar harga naik karena dibutuhkan masyarakat.
  5. Menghambat orang lain mengetahui harga pasar agar membeli barangnya.
  6. Menyakiti penjual atau pembeli untuk melakukan transaksi.
  7. Menyembunyikan cacat barang kepada pembeli.
  8. Menjual barang dengan cara kredit dengan imbalan bunga yang ditetapkan.
  9. Menjual atau membeli barang haram.
  10. Jual beli tujuan buruk seperti untuk merusak ketentraman umum, menyempitkan gerakan pasar, mencelakai para pesaing, dan lain-lain.

 

2.5  Macam – macam Jual – Beli

  1. Jual beli ditinjau dari segi hukumnya dibagi menjadi dua macam yaitu :
    1. Jual beli yang syah menurut hukum dan batal menurut hukum
    2. Dari segi obyek jual beli dan segi pelaku jual beli

 

  1. Ditinjau dari segi benda yang yang dijadikan obyek jual beli dapat dikemukakan pendapat imam Taqiyuddin bahwa jual beli dibagai menjadi tiga bentuk :
    1. jual beli benda yang kelihatan

maksudnya adalah pada wajtu melakukan akad jual beli benda atyau barang yang diperjualbelikan ada didepan penjual dan pembeli, seperti membeli beras dipasar  dan boleh dilakukan.

  1. Jual beli yang disebutkan sifat-sifatnya dalam janji

Sama dengan jual beli salam (pesanan), ataupun yang dilakukan secara tidak tunai (kontan). Maksudnya ialah perjanjian sesuatu yang penyarahan barang-barangnya ditangguhkan hingga masa tertentu.

 

  1. Jual Beli yang dilarang dan batal hukumnya adalah :
  • Barang yang dihukumkan najis oleh agama seperti anjing, babi, berhala, bangkai dan khamar.
  • Jual beli sperma (mani) hewan, seperti mengawinkan seekor domba jantan dengan betina agar dapat memperoleh keturunan, jual beli ini haram hukumnya karena Rasulullah SAW bersabda :Artinya : Dari Ibn Umar ra berkata : Rasulullah SAW telah melarang menjual mani binatang. (HR. Bukhari).
  • Jual beli anak binatang yang masih berada dalam perut induknya.
  • Jual beli dengan mukhadharah yaitu menjual buah-buahan yang belum pantas untuk dipanen.
  • Jual beli dengan munabadzah yaitu jual beli secara lempar-melempar.
  • Jual beli gharar yaitu jual beli yang samar sehingga kemungkinan adanya penipuan, contoh : penjualan ikan yang masih dikolam.
  • Larangan menjual makanan sehingga dua kali ditakar, hal ini menunjukkan kurang saling mempercayainya antara penjual dan pembeli.

 

2.6              Hikmah Yang disyariatkan Jual – Beli

Hikmah dibolehkannya Jual – beli adalah karena kebutuhan seseorang terhadap suatu barang tergantung pada pemilik bararang tersebut. Sedangkan pemilik barang tidak akan memberikan barangnya tanpa ada pengganti. Mengenai disyariatkannya dan dibolehkannya jual beli adalah merupakan jalan sampainya masing – masing dari kedua belah pihak kepada tujuan nya pemenuhan kebutuhannya. Diantara hikmahnya yang lain adalah melapangkan persoalan kehidupan dan tetapnya alam. Karena dapat meredam terjadinya perselisihan, perampokan, pencurian penghianatan dan penipuan. Karena orang membutuhkan barang akan cenderung kepada barang yang ada ditangan orang lain. Dengan tanpa adanya muamalah, maka persoalan yang timbul adalah peperangan dan perselisihan yang dapat merusak alam dan mengacaukan keserasian kehidupan dan laun – lain..

 

2.7              Pengertian Riba

Riba menurut etimologi adalah kelebihan atau tambahan, menutur etimologi, riba artinya kelebihan pembayaran tanpa ganti rugi atau imbalan, yang disyaratkan bagis salah seorang dari dua orang yang melakukan transaksi Misalnya, Si A memberi pinjaman kepada si B dengan syarat si B harus mengembalikan uang pokok pinjaman dan sekian persen tambahnya.

 

2.8              Dasar Hukum Riba

Sebagai dasar riba dapat diperhatikan Firman Allah SWT, sebagai berikut;
وَاَحَلَ اللهُ اْلبَيْعَ وَحَرَّ مَ الرِّبوا. (البقرة:275)

Artinya. “Sesungguhnya Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”. (Al- Baqoroh / 2:275)

 

Riba hanyalah berlaku pada benda – benda seperti emas, perak, makanan dan uang. Karena itu tidak diperbolehkan menjual emas dengan emas, perak dengan perak, kecuali jika harganya sebanding dan dilakukan dengan kontan. Tidak diperbolehkan menjual sesuatu barang, dimana barang tersebut belum berada ditangannya (misal A membeli barang tersebut kepada si B) Tidak diperbolehkan pula menjual daging dengan binatang yang masih hidup. Tidak diperbolehkan juga menjual emas dengan ditukar dengan perak yang harga nilainya tidak sebanding. Demikian pula menjual makanan, tidak diperbolehkan dijual dengan makanan sejenis, kecuali jika sebanding harganya. Tidak diperbolehkan pula jual beli barang sejenis daripadanya dengan barang yang tidak seimbang harganya. Tidak diperbolehkan pula beli barang yang belum menjadi miliknya, misalnya menjual burung yang bebas terbang di udara dan lain – lain

Pada ayat ini juga disebutkaan:

يَآيُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوْ الاَتَأْ كُلُوالرِّ بوااضْعَافًا مُّضَعَفَةًوَّاتَّقُوْ اللهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (ال عمران:13)

Artinya :“Hai orang – orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertaqwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapatkan keberuntungan” (Ali imran/3 : 130)

Dalam sebuah hadits dijelaskan konsekuensi kaharaman itu, terdapat sanski sebagaimana sabda Rasulullah SAW.

لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلّىَ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ آكِلَ الرِّبَا رَمُوَ كِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَلَ هُمْ سَوَاءٌ ( رواه مسلم عن جابر)
Artinya :“Dari Jabir, Rasulullah SAW. Melaknat yang memakan riba, yang mewakilinya, penulisnya dan kedua saksinya dan Rasul berkata, mereka semua berdosa.” (Riwayat Muslim dari Jabir)

Setiap orang Islam dan mukalaf sebelum terlibat dalam satu urusan, terlebih dahulu wajib mengetahui apa – apa yang dihalalkan dan diharamkan Allah. Sesungguhnya Allah telah membebani kita dengan tugas – tugas mengabdi. Oleh karena itu,, mau tidak mau harus memelihara apa yang ditugaskan kepada kita. Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Allah telah mengayidi kata jual beli dengan alat memakrifatkan, yakni اَلْ dan اَلْبَيْعُ. Jual beli ini diikat oleh beberapa ikatan – ikatan, syarat, dan rukun yang harus dipelihara semua. Jadi orang yang hendak jual beli wajib mengetahui hal – hal tersebut. Jika tidak, jelas akan makan riba, mau tidak mau
Rasulullah telah bersabda.“Pedagang yang jujur, besok pada hari kiamat digiring bersama dengan orang – orang yang jujur dan orang – orang yang mati sahid”. Semua itu tidak lain kecuali karena sesuatu yang dia lakukan yaitu berperang melawan hawa nafsu dan keinginan (yang menyeleweng) serta memaksa nafsunya untuk menjalankan akad sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah. Jika tidak, maka tak samar lagi pasti mendapat apa yang akan diancamkan Allah kepada orang yang melanggar batas – batas Kemudian sesungguhnya semua akad, seperti akad ijarah (persewaaan), qirad (andil berdagang), rohn (gode), wakalah, wadiah, ariah, sirkah, musaqah, dan sebagainya, wajib dijaga syarat – syarat dan rukun – rukunnya Akad nikah (malah) membutuhkan kehati – hatian dan ketelitian untuk menghindari kejadian yang ada kaitannya dengan ketidaksempurnaan syarat dan rukun (jika tidak sah nikahnya lantas istri disetubuhi, maka berarti berzinah).

 

2.9              Sebab Diharamkan Riba

Allah SWT melarang riba antara lain karena perbuatan tersebut dapat merusak dan membahayakan diri sendiri dan merugikan serta menyengsarakan orang lain.

  1. Merusak Dan Membahayakan Diri Sendiri

Orang yang melakukan riba akan selalu menghitung – hitung yang banyak yang akan diperoleh dari orang yang meminjam uang kepadanya. Pikiran dan angan – angan yang demikian itu akan mengakibatkan dirinya selalu was – was dan khawatir uang yang telah dipinjamkan itu tidak dapat kembali tepat pada waktunya dengan bunga yang besar. Jika orang yang melakukan riba itu memperoleh keuntungan yang berlipat ganda, hasilnya itu tidak akan memberi manfaat pada dirinya karena hartanya itu tidak akan memberi manfaat pada dirinya karena hartanya itu tidak mendapat berkah dari Allah SWT.

  1. Merugikan Dan Menyengsarakan Orang Lain

Orang yang meminjam uang kepada orang lain pada umumnya karena sedang susah atau terdesak. Karena tidak ada jalan lain, meskipun dengan persyaratan bunga yang besar, ia tetap bersedia menerima pinjaman tersebut, walau dirasa sangat berat. Orang yang meminjam ada kalanya bisa mengembalikan pinjaman tepat pada waktunya, tetapi adakalanya tidak dapat mengembalikan pinjaman tepat pada waktu yang telah ditetapkan. Karena beratnya bunga pinjaman, si peminjam susah untuk mengembalikan utang tersebut. Hal ini akan menambah kesulitan dan kesengsaraan bagi kehidupannya.
Haram menjual barang yang belum diterima (oleh si penjual). menjual hewan dengan daging juga haram, hutang ditukar dengan hutang juga haram, begitupula dengan fuduly (si penjual bukan pemilik barangnya dan bukan sebagai wakil), menjual barang yang tidak dapat dilihat atau jual belinya orang yang tidak mukalaf, menjual barang yang tidak ada manfaatnya, menjual barang yang tidak bisa diserahkan, tanpa ijab qobul, menjual barang yang tidak di bawah hak milik seperti tanah mati atau orang merdeka, menjual barang yang samar atau najis, seperti anjing dan menjual barang yang memabukan atau yang diharamkan, semua adalah haram. Haram menjual sesuatu yang halal dan suci kepada orang yang diketahui bahwa sesuatu itu akan digunakan untuk bermaksiat
Haram menjual barang yang dapat memabukan dan menjual barang yang cacat tanpa diberitahukan cacatnya. Harta peninggalan mayit tidak sah dibagi – bagikan atau dijual sekalipun hanya sedikit, seperenam dirham misalnya, selagi hutang – hutang simayit belum dilunasi, dan wasiat – wasiatnya harus dipenuhi. Jika belum naik haji, padahal sudah berkewajiban maka harus dipungutlah dulu ongkos untuk haji dan umrah sebelum diwaris, kecuali (boleh dijual) untuk memenuhi hal – hal diatas (untuk hutang – hutang / untuk haji/umrah), Jadi harta peninggalan mayit seperti digadaikan pada hal – hal di atas. Sebagaimana budak yang melukai, juga tidak boleh dijual sebelum dipenuhi hak yang berurusan dengan dirinya, kecuali jika yang memberi hutang (pada sayidnya) telah mengijinkan untuk menjual budak itu. Haram melakukan (mempengaruhi) minat pembeli dengan maksud agar tidak membeli, kemudian disuruh membeli barang orang yang memepengaruhi tadi. Apabila sesudah barang ditetapkan (sudah sama – sama menyetujui antara penjual dan pembeli). Juga tidak boleh mempengaruhi penjual dengan maksud agar berpindah menjual kepadanya. Apabila jika dilakukan ketika masih hiyar, amat diharamkan (seperti masih tawan menawar). Haram pula membeli barang saat paceklik (harga pangan mahal) dan orang yang sangat membutuhkan bahan makanan, dengan tujuan untuk ditahan (disimpan) dan akan dijual bila dengan harga yang lebih mahal. Haram berpura – pura nawar barang dengan harga mahal tapi tidak bermaksud ingin membeli tapi bermaksud membujuk orang lain (agar mau membeli dengan harga mahal). Haram memisahkan antara budak perempuan dan anaknya sebelum tamyiz, semua itu haram. Demikian pula menipu atau berkhianat dalam urusan timbangan takaran, meteran, htungan dan atau berdusta
Haram menjual kapuk atau lainnya dari barang – barang dagangan kepada pembeli, tetapi disamping menjual juga memberi hutangnya kepada si pembeli beberapa dirham. Kemudian harga barang lebih mahal, hal ini dilakukan oleh si penjual karena demi hutangnya tersebut. Demikian juga umpamanya, memberi hutang kepada pembuat tenun (atau penjahit) atau lainnya dari pekerjaan buruh, tapi sebelum diberi hutangnya, terlebih dahulu para peminta hutang itu disuruh dengan upah yang terlalu sedikit, demi hutang tersebut. Hal ini disebut dengan istilah rubtah, ini juga amat haram. Haram memberi hutangan kepada para petani yang bayarnya secara tempo sampai saat panen, tapi dengan janji supaya hasil panen mereka dijual kepada si pemberi utangan tersebut dengan harga dibawah harga umum. Hal ini disebut dengan muqda

2.10          Macam – Macam Riba

Menurut para ulama, riba ada empat macam.

  1. Riba Fadli, yaitu riba dengan sebab tukar menukar benda, barang sejenis (sama) dengan tidak sama ukuran jumlahnya. Misalnya satu ekor kambing ditukar dengan satu ekor kambing yang berbeda besarnya satu gram emas ditukar dengan seperempat gram emas dengan kadar yang sama. Sabda Rasul SAW :

عَنْ آبِى سَعِيْدٍ ن الْجُدْرِيِّ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لاَ تَبِيْعُوْاالذَّهَبِ اِلاَّ مِثْلاً بِمِثْلٍ وَلاَ تُشِفُّوْا بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ وَلاَتَبِعُواالْوَرِقَ بِالْوَرِقِ اِلاَّ مِثْلاً بِمِثْلٍ وَلاَ تُشِقُوْابَعْضَهَاعَلَى بَعْضٍ وَلاَتَبِعُوْامِنْهَاغَائِبًابِنَاجِزٍ ( متفق عليه)
Artinya:
“ Dari Abi Said Al Khudry, sesungguhnya Rasulullah SAW. Telah bersabda, “Janganlah kamu jual emas dengan emas kecuali dalam timbangan yang sama dan janganlah kamu tambah sebagian atas sebagiannya dan janganlah kamu jual uang kertas dengan uang kertas kecuali dalam nilai yang sama, dan jangan kamu tambah sebagian atas sebagiannya, dan janganlah kamu jual barang yang nyata (riil) dengan yang abstrak (ghaib).” (riwayat Bukhari dan muslim). Riba Fadli atau riba tersembunyi ini dilarang karena dapat membawa kepada riba nasi’ah (riba jail) artinya riba yang nyata.

  1. Riba Qardhi, yaitu riba yang terjadi karena adanya proses utang piutang atau pinjam meminjam dengan syarat keuntungan (bunga) dari orang yang meminjam atau yang berhutang. Misalnya, seseorang meminjam uang sebesar sebesar Rp. 1.000.000,- (satu juta) kemudian diharuskan membayarnya Rp. 1.300.000,- (satu juta Tiga ratus ribu rupiah)
    Terhadap bentuk transsaksi seperti ini dapat dikategorikan menjadi riba, seperti sabda Rasulullah Saw.:

كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً فَهُوَرِبًا (رواه البيهقى)

Artinya
“Semua piutang yang menarik keuntungan termasuk riba.” (Riwayat Baihaqi)

  1. Riba Nasi’ah, ialah tambahan yang disyaratkan oleh orang yang mengutangi dari orang yang berutang sebagai imbalan atas penangguhan (penundaan) pembayaran utangnya. Misalnya si A meminjam uang Rp. 1.000.000,- kepada si B dengan perjanjian waktu mengembalikannya satu bulan, setelah jatuh tempo si A belum dapat mengembalikan utangnya. Untuk itu, si A menyanggupi memberi tambahan pembayaran jika si B mau menunda jangka waktunya. Contoh lain, si B menawarkan kepada si A untuk membayar utangnya sekarang atau minta ditunda dengan memberikan tambahan. Mengenai hal ini Rasulullah SAW. Menegaskan bahwa:

عَنْ سَمَرَةِ بْنِ جُنْدُبٍ اَنَّ النَّبِيَّ صَلَّىاللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهى عَنْ بَيْعِ الَحَيَوَانِ بِالْحَيَوَانِ نَسِيْئَةً (رواه الخمسة وصححه الترمدى وابن الجاروه)

Artinya:
Dari Samrah bin Jundub, sesungguhnya Nabi Muhammad saw. Telah melarang jual beli hewan dengan hewan dengan bertenggang waktu.” (Riwayat Imam Lima dan dishahihkan oleh Turmudzi dan Ibnu Jarud).

  1. Riba Yad, yaitu riba dengan berpisah dari tempat akad jual beli sebelum serah terima antara penjual dan pembeli. Misalnya, seseorang membeli satu kuintal beras. Setelah dibayar, sipenjual langsung pergi sedangkan berasnya dalam karung belum ditimbang apakah cukup atau tidak. Jual beli ini belum jelas yang sebenarnya. Sabda Rasulullah SAW.
    الذَّ هَبُ بِالذَّهَبٍ وَاْْلفِضَّةُ بِالْفِضَّةِوَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيْرُبِالشَّعِيْرِ وَالتَّمْرُبِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلٍ سَوَاءًبِسَوَاءٍ يَدًابِيَدٍفَاِذَااَجْتَلَفَتْ هَذِهِ اْلاَصْنَافُ فَبِعُوْ اكَيْفَ شِئْتُمْ اِذَاكَانَ يَدًا بِيَدٍ (رواه مسلم)
    Artinya:
    “Emas dengan emas, perak dengan perak, beras dengan beras, gandum dengan gandum, kurma dengan kurma, garam dengan garam, hendaknya serupa dan sama banyaknya, tunai dengan tunai, apabila berlainan jenisnya boleh kamu menjual sekehendamu asal tunai”. (Riwayat Muslim)

 

 

 

 

2.11          Hikmah Pengharaman Riba

Hikmah yang dapat diperoleh dari pengharaman riba menurut ibnu Hajar al – haitami dalam al – jawazir antara lain :

  1. Merusak dan melanggar harta seorang muslim dengan cara mengambil tambahan tanpa member ganti rugi.
  2. Merugikan orang miskin, karena umumnya pemberi hutang menjadi kaya dan yang berhutang menjadi miskin.
  3. Memutuskan hubungan perbuatan baik yang terdapat dalam akad hutang, karena jika seseorang menghutangi satu dirham untuk mengambil dua dirham, maka penghutang pasti tidak merelakan hal itu.
  4. Mengabaikan dan menelantarkan pekerjaan, perdagangan mata pencaharian, dan penindasan dimana tanpa hala tersebut keteraturan alam menjadi terganggu karena orang yang menghasilkan uang dua dirham dengan mengeluarkan satu dirham bagaimana mungkin dapat menunggu kesulitan pekerjaan atau perdagangan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

3.1  Kesimpulan

jual beli adalah suatu perjanjian yang dilakukan oleh kedua belah pihak dengan cara suka rela sehingga keduanya dapat saling menguntungkan, maka akan terjadilah penukaran hak milik secara tetap dengan jalan yang dibenarkan oleh syara.

Hukum jual beli adalah haram, mubah dan wajib.

Riba menurut etimologi adalah kelebihan atau tambahan, menutur etimologi, riba artinya kelebihan pembayaran tanpa ganti rugi atau imbalan, yang disyaratkan bagis salah seorang dari dua orang yang melakukan transaksi Misalnya, Si A memberi pinjaman kepada si B dengan syarat si B harus mengembalikan uang pokok pinjaman dan sekian persen tambahnya.

Sebab diharamkan riba : merusak dan membahayakan diri sendiri, merugukan dan menyesengsarakan orang lain.

Macam macam riba :

  1. Riba fadli
  2. Riba Qardhi
  3. Riba Nasi’ah
  4. Riba Yad

Perbedaan jual beli dan riba :

  1. Jual beli dihalalkan oleh Allah SWT, sedangkan riba diharamkan. Wajib bagi hamba Allah untuk menerimanya dengan tanpa adanya pertentangan
  2. Sesungguhnya dalam aktivitas jual beli, antara untung dan rugi bergantung kepada kepandaian dan keuletan individu. Adapun berdagang dengan cara riba hanya bertujuan untuk mendapatkan keuntungan dalam semua aktivitasnya, tidak membutuhkan kepandaian dan sesungguhnya bahkan terjadi kemandegan, penurunan , dan kemalasan.
  3. Dalam jual beli terjadi tukar menukar yang bermanfaat bagi kedua belah pihak. Sedangkan riba hanya memberi manfaat untuk satu pihak saja.

 

3.2  Saran

Dengan Makalah Ini penulis Mengharapkan Pembaca Bisa menambah ilmu pengetahuan tentang jual beli dan riba. Dan dapat membedakan antara jual – beli dan riba.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Abdurrahman, syekh. Fiqih Jual – beli (panduan praktis Bisnis syariah)
  2. Fauzan, Ibnu. Risalah Albuyu’ al-Manhi ‘ anha fi alislam.
  3. Utsaimin, Ibnu.Risalah al-mudayanah (kumpulan Risalah – risalah fiqih). Maktabah al-ma’rif, Riyadh.

 

 

 

 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s